nulis itu gimana sih…

Sabtu kemaren saya mengikuti acara Kompasiana Blogshop yang diadakan di bali. Salah satu materi yang menurut saya keren adalah : kiat menulis cepat di blog oleh Mas Iskandar Zulkarnaen

Berikut kutipian presentasi beliau dengan bahasa saya sendiri (Mas, ijin share yah :D )

Nulis kok susah sih ?

• tulisan saya jelek (untung bukan loe yg jelek), saya minder (pasti banyak jerawat yah), malu (asal ga malu maluin)
• gak punya ide aka stuck on you!

Gimana nulis biar cepet ?

• tulis apa yang loe suka
• tulis apa yang loe kuasai
• tulis apa yg terlintas di kepala loe
• jangan terpaku judul, belakangan saja
• jangan menulis/edit di kepala, tuangkan saja dalam ms word, ntar kopi paste langsung di blog
• jangan baca tulisan berulang ulang, selesain aja
• jangan terlalu terpaku pada buku dan tutorial, pendapat loe aaja

Gimana nulis biar menarik dan bermanfaat ?

• judul : unik, nyeleneh, menggelitik, singkat, menggambarkan isi
• teaser : betot perhatian pada paragraf pertama
• body : bertuturlah dengan runtut, bahasa sederhana, fakta/data, anekdot, lucu, apa adanya aja lah
• penutup: kesimpulan, quote, ajakan, interaktif
• tulisan bermanfaat dan informatif (info tentang travel, tips trik menarik, how to, penggila gadget, ataupun tentang kesehatan)
• berbagi pengalaman loe sendiri bole juga tuh (cara ngehack web orang, cara membolos yang baik dan benar, cara biar wangi dengan tidak mandi, dll)

Intinya!

• Jangan ampe kehabisan ide, ayo lihatkah sekelilingmu! apa yg kamu rasakan, pikirkan, dan apa yg kamu lihat, tulislah!
• informasi datang dari mana saja, baca koran, nonton tipi, denger radio, komentar di blog orang, dan jangan pernah menyimpan ide, tulis di note (kalo kebetulan loe bawa note atau hp (ini pasti bawa!)
• tulis apa yg ada di kepala, gak usah peduli soal EYD, biarin typo (asal loe koreksi aja nantinya), ga usah pusing soal panjang atau pendek, be your self, teruslah menulis sampe loe gak bisa nulis lagi :D

Maka menulis lah kamu, sebelum kamu gak bisa nulis! :P

Mau nyari wartel? ke baghdad aja jendral!

Fenomena wartel sempat booming beberapa tahun lalu, kira kira jaman saya sma, sewaktu harga perdana simpati berharga hampir 750rb perak, semasih nokia pisang digandrungi, selagi pager masih merajalela.

Nah..sekarang, coba ente cari deh wartel yg masih buka, yg masih eksis…nothing! Yantel..pelayanan telkom di jl teuku umar denpasar pun sudah menutup gerai wartelnya, ada plang wartel di salah sudut kota pun hanyalah plang doank, saya pun kecele ketika masuk, box wartel penuh dengan dus dus yg tidak terpakai.

image

Mau kemana nyari wartel? ya memang sudah tidak ada, telkom sebagai provider terbesar sepertinya sudah menutup bisnis ini, tapi saya kira masyarakat masih perlu kok, memang sih bisa diganti dengan membeli pulsa hp, yg nominalnya sudah sangat terjangkau dan menjamur dimana2, terkadang ada wartel yg jadi satu dengan tempat jualan pulsa..ya..itu yg ada cuman tulisan tutup sepanjang hari, jd sedia pulsa doank :-D

Sudah banyak solusi kan sekarang..nyuri2 telpon kantor, punya hp kan, beli pulsa pastinya..syukur2 dibayarin kantor (weks…itu dulu, skrg mbayar dewe :-P ). Jadi masih perlu nyari wartel ? Gimana di kota ente ? saya percaya di baghdad masih ada :-D

Mari berbagi ala Siu ajak Liu

Berbagi tak pernah rugi….

Dalam rangka ulang tahun Bali Blogger Community yang ke 4 kali ini, komunitas kami kembali menggelar program berbagi dengan nama : Siu ajak Liu (Seribu bersama banyak)

Secara singkat, Siu ajak Liu ini merupakan gerakan bersama untuk menjadi orang tua asuh bagi siswa siswi yang kurang mampu, bukan hanya memberikan bantuan uang (beasiswa) tapi gerakan ini menekankan pada proses pendidikan (mendukung, mendampingi, dan menginspirasi).

Blog : http://siuajakliu.wordpress.com
Facebook : https://www.facebook.com/siuajakliu
Twitter: follow @siuajakliu

Seribu akan lebih berharga jikalau kita memanfaatkannya dengan berbagi terhadap sesama, bukan dinilai dari segi nominalnya…marilah terus menularkan semangat untuk berbagi..karena berbagi tidak akan pernah rugi :)

Ngebloglah dengan riang gembira…

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan mas joko supriyanto , setelah saya berblog-walking dengan mencari pembelajaran tentang SEO dan kebetulan di Blog Mas Joko ini membahas tentang SEO itu dan juga tulisan tentang ngebloglah dengan riang gembira ini..ijin ngutip judule yah mas’e :D

Sudah lama tidak menulis memang, menulis memang susah apalagi jika harus berbicara tentang konten dan aturan yang berlaku, sama seperti tempo hari ketika saya harus menulis di wikipedia…dem, apa2an ini, nulis aja ga becus apalagi nulis di wikipedia, dan berbahasa inggris lagi :D , mau gak mau ya mesti copy paste content yang sudah ada dan di unggah ke wikipedia. Namanya juga pemula, wikipedia me-rejectnya dengan alasan terlalu ngiklan banget dan diambil dari website lain yang sudah ada (sudah saya duga emang :D )..Ya sudah lah, tulisan ini saya serahkan ke teman laen yang lebih senior dan capcus bahasa inggrisnya.

Ya, sudah sejak akhir bulan kemaren saya berganti profesi dari nya tukang IT ke Marcomm, Marketing Communication yang dimana tugasnya lebih ke marketing onliners gitu lah, ngurusin rate hotel, berhubungan onlen ama travel agent (hanya menerima hubungan dalam dunia maya loh ya), manage beberapa website, SEO yang kutupret itu dan pokoke masih banyak lagi dah (namanya juga kerja ndul!)

Profesi baru ini memang banyak yang saya rasakan berbeda dari profesi lama, kalau dulu jadi IT, telepon di kantor bisa berdering 5 menit sekali, bahkan pernah saya hitung total telepon perhari rekornya 20an kali telepon masuk, itu berarti kan saya mesti mesti menyelesaikan 20 masalah yg berbeda atau sama masalah cuman beda orang :D . Beda dengan profesi sekarang..sedikit telepon yang masuk atau bahkan ga ada, telepon malam juga ga ada, libur sabtu minggu, libur bisa tenang, libur bisa ajrut ajrutan, libur bisa olahraga, hauhahaha…tapi tetep lah, resiko ama kerjaan pasti ada, lebih berhubungan ama deadline tentunya, pressure beda, masih perlu banyak pembelajaran lagi, ilmu baru dan tentunya tetap berpikir positif.

Tuh…saya sudah nulis lagi, ngeblog lagi dengan riang gembira :)

MaiNgeblog #SaveBali

Outing..Rafting…and Jumping!

Yak..dalam sebulan terakhir ini, hari minggu saya lewatkan dengan kegiatan2 outdoor itu. Bodo amat ama yang namanya telepon yang berdering itu (tapi tetap saya angkat sih :D )

Outing saya menuju Desa Subaya, yang ada di perbatasan Bangli dan Singaraja bersama rombongan Bali Orange yang sebagian besar adalah anggota Bali Outbound. Sudah tentu jalan berliku kami lalui dan hujan menyambut kami setiba disana, Mas Ari Wangsa…seorang yang sudah tinggal tahunan disana dan merupakan kenalan banyak teman Bali Outbound adalah tempat yang dituju, sebuah gubug kecil nan asri, udara segar dan pemandangan yang indah terpampang di pintu masuk rumah beliau. Banyak catatan kecil yang saya temukan disini, Bukit Cinta-nya (entah siapa yang menamakannya demikian), berdiam di bawah langit cerah di tengah malam sampai dini hari, melihat perbatasan antara Bangli dan Singaraja di kaki gunung di pagi hari, sampai keramahan Mas Ari Wangsa si empunya rumah.

photo diambil dari koleksinya bali outbound

Satu lagi…saya salut akan ketangguhan para penduduk disana, para wanita dan anak2 rela mencari rumput sampai ke kaki gunung dengan kecuraman yang cukup tinggi, dan mereka menjalaninya tanpa ada rasa mengeluh, salute! nah…jangan ngeluh jaque! :D

2 Minggu kemudian…masih di hari minggu, menuju Sobek Rafting di ubud, bersama @rarasupras, @gustul, @yanuar, @arie_Q, @efi_kojaque, @radendan…kebetulan dapet harga murah dari bunda arie :D


Selanjutnya menuju warung pulau kelapa, lanjut ke Rumah Topeng & Wayang dan berakhir di Kertalangu.


Selang seminggu kemudian nyoba bungy jumping di bungy co daerah 66 legian, ini juga dapet tiket free dari @efi_kojaque ;) tadinya sih sumpah! ga mau loncat tapi karena udah janji ama orang2 yang ngajakin loncat @saktisoe en @viar yawdah loncat lah :P


Mau tau rasanya…ga ada rasa kok, cuman sebentar kok sport jantung aka dug dug ser-nya, pokoke tau2 udah dibawah aja dan ngeliatin tandemnya @saktisoe + @viar, hihihi…

Melali bersama Balebengong

Minggu lalu saya dan Efi berpartisipasi dalam acara melali (jalan-jalan) bersama balebengong dalam rangka reportase ke Danau Batur – Kintamani. Ada 6 mobil yang berangkat dan sesampainya di Kintamani, jalur yang di lalui bukan jalur seperti biasanya, kami menuju penelokan, jalur lebih extrim karena rusaknya jalan yang sering dilalui oleh truk truk pengangkut pasir. Keindahan kintamani tidak kami lewatkan begitu saja, beberapa kali mobil berhenti hanya untuk berfoto dan bernarsis ria, seperti ini:

Pemberhentian kami selanjutnya adalah Pura Hulundanu di Desa Songan, disana diadakan acara perkenalan semua anggota yang ikut dan ada sesi games dari Dancuk Anton, meskipun akhirnya hujan..perjalanan dilanjutkan menuju Desa Trunyan, tapi sebelumnya sebagian dari kami menuju rumah Putu Restiti, seorang anak yang dengan keterbatasannya, tapi mempunyai kelebihan menciptakan sesuatu (lebih lanjut mengenai Putu Restiti, silahkan lihat tulisan Mas Hendra WS ini).

Sempat makan siang bareng dengan ikan mujahir ala kintamani, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Trunyan, jalan yang dilalui begitu berliku dan hujan terus menemani kami. Sesampainya di desa, kami menyewa perahu menuju kuburan di desa trunyan dan terntunya dibantu oleh pemandu disana. Hanya 5-10 menit waktu yang diperlukan untuk sampai ke kuburan. Pak Wayan, begitu pemandu itu namanya, beliau mulai memandu kami masuk kuburan dan menjelaskan secara detail prosesi adat istiadat di kuburan itu (Mengenai profil Pak Wayan ini, silahkan lihat tulisan Eka Juniartawan dalam Balebengong).

Secara singkatnya, prosesi adat istiadat di kuburan desa trunyan ini adalah tempat untuk menaruh mayat hanya disediakan 11, jika ada orang dari desa tersebut meninggal, maka mayat yang paling lama akan digeser dan akan ditempati oleh mayat yang lebih baru. Satu hal lagi, kuburan ini hanya di peruntukkan bagi mereka yang meninggal secara normal, bisa dalam arti sakit, atau yang lainnya. Sedangkan selain itu disediakan tempat khusus di luar kuburan tersebut.

Kurang dari satu jam kami di sana, rencana semula memang ada beberapa tempat yang akan dikunjungi di kintamani tapi karena terhalang hujan, jadi kunjungan hanya ke Desa Trunyan saja.

Well…semoga kegiatan ini berlangsung secara simultan, jadi bale bengong bukan tempat hanya untuk bengong saja :D

Terimakasih Balebengong :)

Accenture Awarding Night

Seperti yang saya duga sebelumnya, pemenang 1 dan 2 untuk kompetisi ini adalah Julian dan Winarto, lebih lengkapnya disini. Congratz buat mereka ;)

Saya sendiri masuk 5 besar (dalam arti yang menyelesaikan ketujuh case studi), yah..lumayan lah bagi seorang pemula :P

ki-ka : Tukang Ojeg yang suka nampang, Winarto, Julian Sukmana Putra, Suria Riza (Echa), Ika Rahmawati

The Seventh Case – Accenture Development Partnerships for Save the Children

Preface

Many large companies have run the Corporate Social Responsibility (CSR), it is a program that implements the company’s social responsibility to the public, the goal of CSR is to embrace responsibility for the company’s actions and encourage a positive impact through its activities on the environment, employees, communities, stakeholders and all other members of the public sphere.

Accenture Development Partnerships (ADP) is same model like a CSR, it is a group within Accenture that designed to operate on a not for profit basis to channel Accenture’s strategic business, technology and project management expertise to non-profit organizations, NGOs, foundation and donor organizations operating in the development sector.

In this case, to collaborate with Save the Children, Accenture as a global consultancy, established Accenture Development Partnerships (ADP) dedicated to channeling Accenture’s capabilities and assets to help address development challenges.

CaseStudy 3

Accenture Development Partnership (ADP) provides its development sector clients with a broad range of management consulting and technology services, drawing on the resources of Accenture’s global organization.

ADP is helping Save the Children improve its supply chain processes. The aim of this collaboration is to enhance Save the Children’s programs in sustainable livelihoods, education and health and emergency response.

After the Tsunami struck Aceh and other regions on December 2004, Save the Children contacted Accenture to develop a logistic and procurement database that would help in managing all of the inflows of goods and delivery to the needed areas.

How Accenture Helped

• Provided Save the Children a better logistics and procurement activities using a custom-developed toolkit
• The toolkit was designed and developed within a short time period to record typical logistics transactions: requisition, procurement, and request for delivery, delivery order, goods receipt, and stock adjustment.
• Developed a pilot and provided Train the Trainers to to Save the Children staff

Question:
What benefit did Save the Children receive from Accenture Development Partnership? What would have happened if Save the Children managed their own tool kit?

Based on case study, Accenture creates a custom developed toolkit to provide Save the Children a better logistic and procurement. Even designed and developed within a short time period record typical logistics transactions, with this toolkit, Save the Children will have one database that would help in managing all of goods and delivery to the needed areas. Also with helped by ADP team which is with their skills and knowledge about this system, a lot of logistics that come from outside can easier to distribute and procurement activities such as purchase planning, suppliers research and selection, inventory control and stock management can run smoothly.

Every people that involved into this project must be work as a team, they will trained by Accenture and will be developed a pilot and provided Train the Trainers to Save the Children staff. It is important to the organization because they will know how manage operation. Manage people, understand the processes, and maximize technology to combine all of it. This aspect is really helps Save the Children staff to improve their skill and capabilities in those activities.

Another question is what would have happened if Save the Children managed their own tool kit? In my thought, if Save the children manage their own kit, it will place constraints in the needed areas, distribution and procurement activities will delayed, increase supply chain cost, wasting time and also works will be ineffective and inefficient. By implementing a custom tool kit from ADP it will helps Save the Children reduce that risk.

As a conclusion, Accenture Development Partnership is helping Save the Children by developing a custom toolkit to improve its supply chain processes.

The Sixth Case – Bundled Outsourcing for RGM Group

Preface

Today, most companies are looking the best way to maximize their investment on outsourcing. All business section such IT, finance and accounting and human resource must be synergy and synchronize to make the management easier take a critical decision. Bundled outsourcing is the best way for the companies to creating synergies and efficiencies, reduce cost and increasing strategic flexibility while simplifying multiple back-office functions.

Accenture as a global management consulting, technology services and outsourcing company helps clients achieve high performance through bundled outsourcing services designed specifically to meet their particular business challenges and to drive business outcomes.

CaseStudy 2

RGM Group (RGM), a diversified global resources business, with major assets in Asia Pacific, South America and Europe, is rapidly growing in geographical spread and revenue. The organization currently employs 55,000 people and achieved an average growth rate of approximately 25 percent in the last few years and has forecasted to continue its growth through both greenfield and brownfield expansions, and mergers and acquisitions. To support its growth agenda to be a high-performance global business, RGM assessed the viability of setting up a shared services center that could function as a scalable base in terms of providing IT, finance and accounting, and human resources support services to the client’s group of companies and other businesses. Accenture’s feasibility study identified areas for synergy in support functions: human resource, information technology/ information systems, and finance & administration.

Question:

Would a Shared Service Center be the best option for RGM? Would it make sense to have business process standardization, streamlining and improvement opportunities within the business units and across the organization as a whole?

Based on case study, Shared Service Center would be the best option for RGM, In my opinion the section between IT, finance and accounting also human resources is related one to each other; make a whole process become a single platform and it will enable synergies support function as whole activities.

Usually a company starts to run their businesses from employee recruitment, which is the task of the human resources, moreover human resources is also taking care of payroll, training and development to raise personnel performance, healthy and safety of their employee. By implementing an integrated IT system and providing a Shared Service Center, it will helps human resources coordinate all related matters to accounting especially for employee attendance, salaries, and another payment which is related to human resources. RGM Group can realize many times the direct cost savings from bundled outsourcing.

In terms of finance and accounting, a Shared Service Center will facilitate optimal finance processes, such as budgeting a project, month end closing, financial reporting and analysts, also all related work in account receivable and payable. IT plays an important role here to maintain the company’s cash flow to remain stable. By implementing this solution, RGM group will get efficiencies and cost savings also sharpen its focus on strategic initiatives.

Overall, Accenture provide shared service center as a business support function and focusing on operational management of service delivery and overall performance of IT, finance and accounting also human resources operations, meanwhile RGM group can focus on bringing real value to the client’s group of companies, another RGM Group businesses and innovation to the customers. Therefore, it would be make sense to have business process standardization, streamlining and improvement opportunities within the business units and across the organization as a whole

In general, the benefits of bundled outsourcing for RGM Group are :

• Reduce operating risk: Bundling with a single provider greatly reduces potential points of failure.
• Simplify the governance process: RGM group have only one relationship to manage, reducing administrative and contract activity.
• Reduce redundancies and costs: A single platform reduces hardware redundancy, development, maintenance and licensing costs.
• Improve performance: Automating manual processes and activities such as error handling can result in increased productivity and reduced time to complete.

As a conclusion

Accenture providing a Shared Service Center in terms of IT, finance and accounting, and human resources as a bundled outsourcing for RGM Group to creating synergies and efficiencies, reduce cost and increasing strategic flexibility while simplifying multiple back-office functions.
Therefore, it would be make sense to have business process standardization, streamlining and improvement opportunities within the business units and across the organization as a whole